Lalu Siapa Yang Sesat

   Eufhoria beragama sepertinya semakin meluap di era kekinian, hampir-hampir atau paling tidak, seimbang dengan eufhoria politik bangsa kita yang meledak-ledak akhir-akhir ini. Dan tentunya tidak sedikit menciptakan ketidakstabilan nasional serta konflik publik yang cenderung brutal. Tak dapat dipungkiri kecenderungan ini juga terjadi pada hal yang berbau agama, keyakinan atau spritualitas. Ini dapat kita lihat pada ekses bermuculannya ajaran-ajaran baru yang telah dianggap sesat oleh sebahagian orang, terutama dalam tubuh Islam.

Lalu Siapa Yang Sesat
  

   Persoalannya kemudian bahwa ajaran-ajaran yang dianggap sesat ini menciptakan ‘riak keruh’ di dalam Islam yang menurut sebagian ulama dapat merusak sendi-sendi ajaran Islam. Sehingga mengharuskan kita menuntut para pengikut ajaran sesat ini untuk bertobat dan kalau perlu dipenjarakan saja.

   Sejenak jika kita cermati dengan seksama, persoalan ini sebernarnya tidaklah begitu membahayakan jika dibandingkan dengan para pelaku-pelaku politik yang nakal di kancah politik bangsa ini. Kenapa begitu, diperlukan kedewasaan yang tinggi dalam memandang persolan ini secermat mungkin, agar ‘riak keruh’ ini tidak perlu ada jika kita merasa orang yang islami dan konon kabarnya Rahmatan lil alamin.


   Ada baiknya kita tidak memaksakan kehendak kita kepada orang lain termasuk menyuruh bertobat hanya karena berbeda keyakinan dengan kita, berbeda faham, berbeda penafsiran. berbeda tarikah, Apalagi sampai memenjarakannya. Dalam hal ini biarkan Tuhan yang menilai dan menghakimi karena sesungguhnya menghakimi bukan hak manusia. Tentunya kita tak ingin nenganggap diri kita Tuhan. Tanpa kita sadari, sebenarnya kitalah yang telah berlaku sesat.
   
   Mari sama-sama kita renungkan bahwa selama ajaran itu tidak mengajarkan kesesatan asasi misalnya membunuh, memperkosa, membahayakan jiwa seseorang dalam ritualnya atau apalah itu yang bisa merugikan agama secara langsung, maka tidak perlu memperlakukan mereka secara berlebihan.
Bukankah perbedaan itu Rahmah, berkah. Dan itu tak dapat kita hindari. Semakin kita berbeda semakin besar Rahmat itu datang. Dan semakin kuat keyakinan kita terhadap apa yang telah kita yakini. Ironinya munculnya ajaran-ajaran baru akhir-akhir ini dengan terburu-buru kita cap sesat karena bertentangan dengan keyakinan mayoritas. Yakni keyakinan kita. Padahal itu belum tentu.
    

   Perlu diluruskan bahwa Agama yang selalu kita sebut Agama seperti Islam, Kristen, Hindu, Budha dsb..itu, kenyataanya hanyalah konsep seperti sebuah Biro yang membedakan keyakinan yang satu dengan keyakinan yang lainnya yang merupakan buatan manusia sendiri. Padahal Islam, Kristen Hindu, Budha yang sesungguhnya ada dalam hati kita masing-masing. Agama Allah Yang Hanif.

   Kemunculan ajaran Al-Qiyadah misalnya ajarannya sangat kontroversi dengan ajaran Islam mayoritas. kemudian kita ramai-ramai menyesatkan dan memenjarakannya. Saya sempat berpikir bahwa berutunglah penganut Kristen Ortodoks tidak menamakan agamanya dengan nama Islam Ortodoks misalnya. Karena jika sepintas kita perhatikan ritual mereka mirip dengan ritual agama Islam seperti salat, wudhu, perempuannya juga berjilbab, hanya ajaran tauhid saja yang berbeda. Untung saja nama agamanya Kristen, coba namanya Islam, Isya Allah pasti sudah disesatkan, dipenjarakan, dan pengikutnya tidak akan pernah tenang.

Postingan terkait:

1 Tanggapan untuk "Lalu Siapa Yang Sesat"

  1. Bukankah perbedaan itu Rahmah, berkah. Dan itu tak dapat kita hindari. Semakin kita berbeda semakin besar Rahmat itu datang. Dan semakin kuat keyakinan kita terhadap apa yang telah kita yakini. Ironinya munculnya ajaran-ajaran baru akhir-akhir ini dengan terburu-buru kita cap sesat karena bertentangan dengan keyakinan mayoritas. Yakni keyakinan kita. Padahal itu belum tentu.

    ====

    betapa bahagianya saya menemukan tulisan yang mencerahkan seperti ini..
    terima kasih daeng
    tulisan yg bagus...memang masyarakat kita perlu lebih sering disadarkan utk jadi dewasa dlm berpikir dan bersikap, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAWW sebagai uswatun hasanah dalam hal akhlakul karimah

    BalasHapus

Saya Ansul, sangat Menghargai Komentar dan saran Anda, Thanks!